Terdapat beberapa faktor kritis dari kelapa sawit. :
1.Setelah dipanen harus segara diposes / diolah di pabrik pengolahan kelapa sawit (PKS) karena mutunya akan menurun jika sempat menginap di lapangan (restan dan peraman).
2.Kandungan minyak (rendemen) dari mesocarp TBS tidak banyak yaitu hanya 18%-23% minyak kelapa sawit mentah/crude palm oil (CPO) dan dari inti kelapa sawit/palm kernel (PK) mengandung 4% minyak inti kelapa sawit/palm kernel oil (PKO).
3.Tandan buah segar (TBS) memiliki kandungan asam lemak bebas/fresh fatty acid (FFA) sekitar 2% pada saat panen dan akan meningkat sejalan dengan bertambahnya waktu. Kadar FFA yang tinggi akan menurunkan kualitas CPO karena akan menyebabkan bau tengik dan rasa yang tidak enak. Batas maksimal FFA sesampainya di pabrik refinery adalah 5% .
4.Kekeringan masih merupakan ancaman bagi pertumbuhan dan produktivitas tanaman kelapa sawit di beberapa wilayah. Upaya untuk lebih memanfaatkan air hujan dengan membangun konservasi tanah – air mulai diteliti dan dilakukan.
5.Sebaliknya meningkatnya curah hujan yang tinggi juga merupakan ancaman serius bagi pertumbuhan dan produktivitas kelapa sawit yang ditanam di daerah rendahan, karena akan meneyebabkan tanaman terendam air (banjir) selama berminggu-minggu.
6.Penyakit berkaitan kelapa sawit dikaitkan dengan serangga perusak daun sawit seperti ulat bungkus dan beluncas. Ulat bungkus ataupun beluncas yang banyak akan memakan daun sawit dengan begitu hebat sekali, sehingga menyebabkan daun tinggal bagian lidinya saja. Pokok sawit akan kehilangan permukaan daun untuk melakukan proses fotosintesis bagi tujuan menghasilkan buah. Hasil akan menurun sebanyak 40% dalam waktu 2 tahun berikutnya. Aplikasi musuh alami (predator) sudah mulai dilakukan di beberapa wilayah.
7.Terbatasnya lahan yang tidak sebanding dengan laju perkembangan perkebunan kelapa sawit menyebabkan kelapa sawit ditanam di daerah gambut dan lahan kritis lainnya. Hal ini tentu akan menghambat pertumbuhan tanaman dan menurunkan produktivitas.
8.Isu perusakan lingkungan dan pemanasan global mengurangi laju perkembangan perkebunan kelapa sawit. Isu tersebut menjatuhkan pamor produk kelapa sawit sehingga mengurangi ekspor CPO (walaupun nilainya tidak signifikan).
